Negeri tempe yang tak punya Kedelai

Masih segar dalam ingatan kita, tatkala saudara-saudara kita yang ada di padang dan kepulauan mentawai terkena gempa dan tsunami. Ada salah satu pejabat yang berkomentar, tak usah tinggal di pinggir pantai jika tak ingin resiko terkena tsunami. secara akal logika tentu penyataan itu benara adanya. tatkala orang hidup di sekitar gunung tentu resiko terkena letusan, orang hidup di sekitar sungai pasti terkena resiko banjir. Saat saudara kita terkena tsunami pun mereka sudah memikirkan resikonya. tak perlu pejabat dari jakarta mengatakannya. sangat tak bermoral rasanya jika seorang yang terhormat mengeluarkan pernyataan tersebut.

Kejadian tersebut berulang kembali ketika masyarakat indonesia yang mayoritas penduduknya mengkonsumsi tempe. Dengan bahan baku kedelai yang sedang melambung tinggi tak terkendali. Penguasa negara ini tentunya sangat melek jika sebagian besar warganya mengkonsumsi kedelai. Bukan karena tak punya pilihan lauk, namun hanya tempe lah yang terjangkau dengan kantong mereka. Dan kemudian saat Menteri Perdagangan kita mengeluarkan pernyataan untuk lebih arif dalam mengkonsumsi tempe, Saya yakin menteri tersebut tak pernah melihat keluar dari jendela mobilnya apalgi membukanya. Dalam pemikiran pejabat itu mungkin lebih arif untuk mengkonsumsi tempe adalah menyelingi dengan ikan, telor atau daging. Namun dalam pemikiran masyarakat kita, pemikiran arif adalah mengkomsumsi tempe hari ini, menyelingi dengan kerupuk atau cukup nasi putih saja.

Sebuah kegagalan dalam membentuk sebuah Negara tatkala Pemimpinnya tak mampu berpikir dan bertindak apa yang menjadi kemauan dan kebiasaan masyarakatnya. Penguasa tahu bahwa kedelai harus import namun tak pernah mampu berfikir untuk mengatasi ketergantungan tersebut. Dalam setiap kasus yang membelit masyarakat selalu kita yang bersalah. Sudah tahu akan tsunami kenapa hidup di pantai, sudah tahu jembatan akan roboh kenapa hidup dibawahnya. dan sudah tahu tak punya kedelai kenapa harus makan tempe???…

Begitulah wajah pemimpin kita. Sungguh naif jika mereka ingin menjadi negara industri . Untuk sekedar menjadi negara tempe saja mereka tak mampu.!!!

 

About these ads

, , , , , , ,

  1. #1 by pursuingmydream on Juli 31, 2012 - 3:19 pm

    Kenapa pak menteri bilang kalau makan tempe harus arif?? *maaf tidak mengikuti berita politik jadi ketinggalan :D.

    • #2 by joyolandoh on Juli 31, 2012 - 9:42 pm

      supaya impor nya ga kebanyakan “Katanya”..dimata mereka kita selalu salah, padahal hanyalah tempe lah yangmampu masyarakat kita beli.:(
      daging ( hanya ada di idul adha )

  2. #3 by nizwa11 on Agustus 2, 2012 - 8:19 pm

    tempe harga lebih murah tapi lebih enak dan renyah dari daging :D pemerintah gak pernah makan tempe sih :D

    • #4 by joyolandoh on Agustus 2, 2012 - 8:28 pm

      bettulllllll……sekali-sekali mestinya ditraining hidup melarat…xixiix

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: