ORANG MISKIN JUGA MANUSIA

Ditengah meroketnya harga – harga kebutuhan barang pokok. Diantara himpitan ekonomi yang semakin menjadi. Untuk kesekian kali hak warga terutama dengan tingkat ekonomi yang bisa dikatakan miskin mendapat perlakuan yang sangat diskriminatif. Miskin dalam arti secara harfiah adalah orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari – hari sesuai dengan standart kehidupan yang layak. Dengan begitu tentunya warga miskin harus mendapat porsi perhatian yang lebih. Menjadi miskin bukan sebuah pilihan hidup, bukan harapan , bukan pula sebuah niat dalam menjalani kehidupan. Namun menjadi miskin adalah sebuah sikap dari segala keterpaksaan dalam kehidupan.

Dalam mendapatkan haknya dibidang kesehatan. Warga miskin masih belum sepenuhnya diperhatikan oleh Pemerintah Daerah Pati . Minimnya anggaran yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Pati terlebih dengan keluarnya Pemerintah Daerah Pati mengenai pembatasan/kuota warga yang tercatat miskin semakin menjauhkan warga miskin dari sikap diopeni Pemerintah Daerah. Sementara prasarana yang diharapkan dalam ruang lingkup Puskesmas dan Rumah sakitpun masih sangat terbatas. Aneh!!Kog jauh – jauh berbicara tentang ketersediaan dana wong ketika kita berbicara mengenai pelayanan saja, masih sangat jauh dari memuaskan. Disamping pengurusan admisnistrasi yang berbelit – belit, malah ada kesan jika ada warga miskin yang opname dirumah sakit adalah adzab karena mungkin mengurangi insentif  atau menambah jam kerja yang seharusnya bisa digunakan untuk ngrumpi atau membaca tabloid gosip selebriti.

Kabupaten Pati mempunyai 21 kecamatan, apabila dimasing- masing kecamatan terdapat 20 desa, maka Kabupaten Pati terdapat lebih kurang 420 desa. Jika dalam 420 desa tersebut terdapat 1 orang sakit dengan berbagai keluhan tentunya ada 420 orang yang harus berobat. Misalnya 3/4 yang mampu ditangani oleh puskesmas, baik puskemas pembantu atau puskesmas rawat inap.Masih ada sekitar 105 orang yang harus dirujuk ke RSU daerah. Sementara BRSD RAA Soewondo selaku induk dari kesehatan masyarakat hanya mempunyai 6 ruang kelas untuk warga miskin yang masing – masing ruang hanya mampu menampung 6 orang. Boleh dikatakan hanya 36 orang yang tertampung di RSU. Dibandingkan dengan jumlah penduduk Kabupaten Pati yang mencapai ratusan ribu, persentase ini sangat amat kecil. Masih lebih banyak room karaoke yang saat ini sedang marak bak jamur musim hujan di Kabupaten Pati tercinta ini. Jika demikian bagaimana bisa memberikan fasilitas yang baik jika ruang saja terbatas.  

Lalu nasib sekitar 69 orang yang sakit tadi harus kemana?. Jika Saya yang menjawab mungkin akan saya rujuk ke alon – alon/simpang limakarena disana prasarananya sangat lengkap dengan perawatan yang telah menelan biaya miliaran rupiah. Adafasilitas perbelanjaan,masjid,atau pusat jajan PKL yang siap melayani apapun permintaan kita. Daripada untuk nanggap dangdut yang ga jelas untuk kepentingan siapa. Atau alternatif yang lain, akan saya rujuk untuk sementara tinggal di rumah pejabat yang nyaman sambil menunggu giliran masuk ruang perawatan.

Jangan dulu mengomel, karena yang diatas adalah seandainya Saya yang mengambil kebijakan.

Bupati selaku pemegang kekuasaan tertinggi di Pemerintah Kabupaten Pati tentu sangat arif dan bijaksana dalam mengambil kebijakan.Ketika warganya mengeluh, apalagi yang mengeluh adalah warga miskin yang pada Pilkada dulu jespleng dalam mendoakan untuk kembali menjabat menjadi Bupati Pati. Beberapa kebijakan beliau yang kita harapkan yaitu mempermudah persyaratan yang harus dilengkapi warga miskin untuk mendapatkan haknya dalam bidang kesehatan, menambah kuota dan anggaran bidang kesehatan,menambah ruang di rumah sakit atau bahkan yang lebih hebat adalah membangun rumah sakit khusus warga miskin.Amien…….

Ketika semua itu terjadi, jelas akan kami dukung bahkan jika Bapak Bupati menghendaki dan peraturan perundangan mengijinkan akan kami usulkan kembali untuk yang ketiga kali memimpin Kabupaten Pati. Tanpa harus gengsi memangkas biaya kontrak pemain sepak bola yang mahal, tanpa takut memutasikan bahkan memecat pejabat atau petugas dilapangan yang nakal.atau tanpa membuat patung dan taman – taman yang cuma dilihat pada saat tim survey piala Adipura datang.

Saat warga yang sakit mendapatkan tunjangan kesehatan demi mempercepat proses kesembuhannnya dan kembali sehat. Tak perlu bintang dangdut ibukota untuk menghibur.tak perlu pemain asing untuk memajukan olahraga dan taman – taman yang indah untuk memenangkan Adipura.

Pati akan menjadi Bumi Mina Tani.

, , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: